Seluruh agama di dunia, baik Islam, Kristen, Yahudi,
Hindu, Budha, Sikh dan lain-lain meyakini bahwa Tuhan memiliki Kekuasaan yang
tak terbatas dan bisa melakukan apapun. Bahkan dalam Al Qur’an Allah berfirman:
“Bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) dia Hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah dia.” (QS. Al. Baqarah: 117)
Dalam ajaran Agama manapun
di dunia ini, semua mengakui
bahwa Tuhan memiliki kekuasaan Absolut yang tidak terbatas. Hingga dengan
kekuasaan absolut itulah Tuhan mampu menciptakan hal-hal diluar akal manuisa
seperti yang banyak di ceritakan dalam kitab suci. Namun dogma yang mengatakan
bahwa Tuhan bisa menjadi manusia, juga hampir dipercayai oleh seluruh agama
selain Islam. Hanya islamlah satu-satunya agama yang menolak dogma tersebut.
Apabila
kita telisik lebih lanjut, dalam literatur sejarah ilmu teologi dogma yang
mengatakan bahwa Tuhan bisa menjadi manusia tersebut di kenal dengan nama
filsafat Antroformisme. Yang dipercayai semenjak masa Helenisme
di Yunani, Hinduisme di India hingga Kristen di Roma. Hal ini disebabkan karena
salahnya interpretasi atas wilayah kekuasaan Absolut Tuhan.
Dalam
tradisi agama yang mengimani filsafat Antroformisme tersebut dikatakan bahwa
saat manusia melakukan berbagai kejahatan, dan mereka terjerumus dalam lembah
penderitaan akhirnya Tuhan turun ke dunia dalam bentuk manusia. Karena Tuhan
itu sangatlah suci sehingga Dia tidak bisa menyentuh manusia, tidak bisa
merasakan rasa sakit manusia dan kesulitan yang mereka derita. Maka Tuhan turun
ke dunia dan menjadi manusia agar bisa merasakan penderitaan manusia.
Apabila
alasan yang mengatakan bahwa Tuhan bisa menjadi manusia karena hal tersebut
maka hal itu hanya menggunakan logika saja. Karena apabila kita berfikir balik
dengan menggunakan logika seperti ini, semisal Anda adalah pembuat handphone
terbaru untuk mengetahui baik buruknya, apakah anda perlu menjadi Handphone.
Jadi karena saya adalah pembuatnya maka saya tidak perlu menjadi handphone.
Saya hanya perlu membuat petunjuk untuk penggunaan atau reparasinya saja.
Sama halnya
dengan Tuhan yang Maha Agung, karena Dia pencipta manusia Dia tidak perlu
menjadi manusia untuk mengetahui baik dan buruk mereka. Dia cukup memilih
seorang manusia untuk manusia, kemudian Dia turunkan wahyu yang berisi tuntunan
kepada manusia pilihan-Nya itu.
Jika Anda
setuju dengan alasan Tuhan dapat melakukan apapun sekehendak-Nya dan membuat
apa saja. Lantas kenapa Dia harus menjadi manusia? Apabila disimpulkan seperti
itu, maka Dia bukan lagi Tuhan. Karena Tuhan dengan manusia memiliki kwalitas
yang berbeda. Tuhan yang agung kekal dan
tidak mati sedang manusia pasti mati. Jadi tidak mungkin disaat yang sama
menjadi mati dan kekal.
Tuhan tidak
memiliki permulaan, Tuhan tidak berakhir sedang manusia memiliki permulaan
yakni saat dia dilahirkan dan memiliki akhiran yakni saat dia mati. Tidak ada
manusia yang memiliki permulaan tapi tidak memiliki akhir. Karena hidup menjadi
tidak berarti.
Manusia
butuh makan dan minum, sementara Tuhan tidak membutuhkannya. Manusia
membutuhkan istirahat dan tidur sedang Tuhan tidak membutuhkannya. Sehingga
dari sini saja sudah jelas bahwa Tuhan tidak mungkin menjadi manuisa.
Apabila ada seseorang yang berkata, wilayah
Kekuasaan Tuhan bersifat Absolut dan tidak terbatas, lantas apakah tidak
mungkin Dia Maha Kuasa untuk melakukan hal tersebut?
Perlu di
garis bawahi, apabila anda berpikir sistematis dan berdasarkan nurani maka Anda
akan menemukan beberapa hal yang tidak mungkin di lakukan Tuhan di bawah sifat
Maha Kuasa-Nya.
Kita semua yakin apabila Tuhan itu ada, lantas apakah mungkin di bawah
sifat Maha Kuasa-Nya, Tuhan meniadakan keberadaan-Nya. Tentu hal ini tidak
mungkin, apabila itu terjadi tentu Dia bukanlah Tuhan karena Dia telah tidak ada
sedang Tuhan harus ada karena adanya alam semesta ini yang pasti membutuhkan
adanya pencipta.
Diantara sifat Tuhan adalah
Dia tidak memiliki permulaan. Tuhan adalah Subtansi yang Azali yakni
tidak memiliki permulaan. Bahkan saat alam semesta berikut apa yang disebut awal dan
akhir masih belum tercipta,
Tuhan telah ada dengan sifat Maha Kuasa-Nya. Lantas apakah mungkin apabila
Tuhan menjadikan dirinya memiliki permulaan? Apabila iya, maka Dia bukanlah
Tuhan lagi. Karena setiap yang
memiliki permulaan adalah ciptaan dan bukanlah Tuhan, Sang Pencipta[1].
Salah satu
sifat Tuhan yang lain adalah Maha Adil, jadi apakah mungkin apabila Tuhan
menjadikan Diri-nya menjadi Maha Tidak Adil? Tentu tidak mungkin. Allah
berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun
sebesar zarrah,” (Qs. An-Nisa’; 40)
Apabila
Tuhan menghendaki bisa lupa, yang bisa lupa itu adalah bukan Tuhan, tentu saja
Dia bukanlah Tuhan. Allah berfirman:
“Tuhan kami tidak akan salah
dan tidak (pula) lupa;” (QS. Thaha: 52)
Di dalam Al Qur’an tidak
ada hal yang menyebutkan bahwa Tuhan tidak mampu berbuat apa saja. Allah
berfirman dalam surat Al fatir: 1, Al
Baqarah: 106, 109, 284 dan lain sebagainya. Namun ada beberapa hal yang tidak
mungkin dilakukan oleh Tuhan. Diantaranya menjadi manuisa, karena Allah tidak
ingin menjadi seperti manusia, karena
Dia hanya ingin menjadi Tuhan.[2]
[1]
Dalam terminologi Ilmu Tauhid
Madzhab Asy’ari yang mayoritas diikuti oleh masyarakat Indonesia, dijelaskan
bahwa seluruh sifat-sifat Tuhan yang tidak terbatas itu di bagi menjadi dua: 1.
Sifat Dzat, yakni suatu Sifat yang Tuhan tidak mungkin memiliki sifat
yang bertentangan dengan sifat tersebut. Seperti sifat Wujud, dan Allah tidak
mungkin memiliki sifat Adam (tidak ada). 2. Sifat Af’al, yakni suatu
sifat pekerjaan yang Tuhan mungkin memiliki sifat yang bertentangan dengan
sifat tersebut. Seperti sifat al-Khaliq (Maha Pencipta) dan Allah mungkin
memiliki sifat al-Halik (Maha Pengrusak). Dan Tuhan tidak mungkin mewujudkan
lawan dari sifat wajib baginya.
[2]
Disarikan dari pidato Dr. Zakir Naik dan beberapa penambahan seperlunya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar