Selasa, 23 Februari 2016

Apakah Tuhan Bisa Menjadi Manusia?



 
Seluruh agama di dunia, baik Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Sikh dan lain-lain meyakini bahwa Tuhan memiliki Kekuasaan yang tak terbatas dan bisa melakukan apapun. Bahkan dalam Al Qur’an Allah berfirman:

 “Bila dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) dia Hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah dia.” (QS. Al. Baqarah: 117)
 Lantas dengan Kekuasaan yang tak terbatas ini, apakah tidak mungkin Tuhan menjadi Manusia?

Dalam ajaran Agama manapun di dunia ini, semua mengakui bahwa Tuhan memiliki kekuasaan Absolut yang tidak terbatas. Hingga dengan kekuasaan absolut itulah Tuhan mampu menciptakan hal-hal diluar akal manuisa seperti yang banyak di ceritakan dalam kitab suci. Namun dogma yang mengatakan bahwa Tuhan bisa menjadi manusia, juga hampir dipercayai oleh seluruh agama selain Islam. Hanya islamlah satu-satunya agama yang menolak dogma tersebut.
            Apabila kita telisik lebih lanjut, dalam literatur sejarah ilmu teologi dogma yang mengatakan bahwa Tuhan bisa menjadi manusia tersebut di kenal dengan nama filsafat Antroformisme. Yang dipercayai semenjak masa Helenisme di Yunani, Hinduisme di India hingga Kristen di Roma. Hal ini disebabkan karena salahnya interpretasi atas wilayah kekuasaan Absolut Tuhan.
            Dalam tradisi agama yang mengimani filsafat Antroformisme tersebut dikatakan bahwa saat manusia melakukan berbagai kejahatan, dan mereka terjerumus dalam lembah penderitaan akhirnya Tuhan turun ke dunia dalam bentuk manusia. Karena Tuhan itu sangatlah suci sehingga Dia tidak bisa menyentuh manusia, tidak bisa merasakan rasa sakit manusia dan kesulitan yang mereka derita. Maka Tuhan turun ke dunia dan menjadi manusia agar bisa merasakan penderitaan manusia.
            Apabila alasan yang mengatakan bahwa Tuhan bisa menjadi manusia karena hal tersebut maka hal itu hanya menggunakan logika saja. Karena apabila kita berfikir balik dengan menggunakan logika seperti ini, semisal Anda adalah pembuat handphone terbaru untuk mengetahui baik buruknya, apakah anda perlu menjadi Handphone. Jadi karena saya adalah pembuatnya maka saya tidak perlu menjadi handphone. Saya hanya perlu membuat petunjuk untuk penggunaan atau reparasinya saja.
            Sama halnya dengan Tuhan yang Maha Agung, karena Dia pencipta manusia Dia tidak perlu menjadi manusia untuk mengetahui baik dan buruk mereka. Dia cukup memilih seorang manusia untuk manusia, kemudian Dia turunkan wahyu yang berisi tuntunan kepada manusia pilihan-Nya itu.
            Jika Anda setuju dengan alasan Tuhan dapat melakukan apapun sekehendak-Nya dan membuat apa saja. Lantas kenapa Dia harus menjadi manusia? Apabila disimpulkan seperti itu, maka Dia bukan lagi Tuhan. Karena Tuhan dengan manusia memiliki kwalitas yang berbeda.  Tuhan yang agung kekal dan tidak mati sedang manusia pasti mati. Jadi tidak mungkin disaat yang sama menjadi mati dan kekal.
            Tuhan tidak memiliki permulaan, Tuhan tidak berakhir sedang manusia memiliki permulaan yakni saat dia dilahirkan dan memiliki akhiran yakni saat dia mati. Tidak ada manusia yang memiliki permulaan tapi tidak memiliki akhir. Karena hidup menjadi tidak berarti.
            Manusia butuh makan dan minum, sementara Tuhan tidak membutuhkannya. Manusia membutuhkan istirahat dan tidur sedang Tuhan tidak membutuhkannya. Sehingga dari sini saja sudah jelas bahwa Tuhan tidak mungkin menjadi manuisa.
            Apabila ada seseorang yang berkata, wilayah Kekuasaan Tuhan bersifat Absolut dan tidak terbatas, lantas apakah tidak mungkin Dia Maha Kuasa untuk melakukan hal tersebut?
            Perlu di garis bawahi, apabila anda berpikir sistematis dan berdasarkan nurani maka Anda akan menemukan beberapa hal yang tidak mungkin di lakukan Tuhan di bawah sifat Maha Kuasa-Nya.
Kita semua yakin apabila Tuhan itu ada, lantas apakah mungkin di bawah sifat Maha Kuasa-Nya, Tuhan meniadakan keberadaan-Nya. Tentu hal ini tidak mungkin, apabila itu terjadi tentu Dia bukanlah Tuhan karena Dia telah tidak ada sedang Tuhan harus ada karena adanya alam semesta ini yang pasti membutuhkan adanya pencipta.
            Diantara sifat Tuhan adalah Dia tidak memiliki permulaan. Tuhan adalah Subtansi yang Azali yakni tidak memiliki permulaan. Bahkan saat alam semesta berikut apa yang disebut awal dan akhir masih belum tercipta, Tuhan telah ada dengan sifat Maha Kuasa-Nya. Lantas apakah mungkin apabila Tuhan menjadikan dirinya memiliki permulaan? Apabila iya, maka Dia bukanlah Tuhan lagi. Karena setiap yang memiliki permulaan adalah ciptaan dan bukanlah Tuhan, Sang Pencipta[1].
            Salah satu sifat Tuhan yang lain adalah Maha Adil, jadi apakah mungkin apabila Tuhan menjadikan Diri-nya menjadi Maha Tidak Adil? Tentu tidak mungkin. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah,” (Qs. An-Nisa’; 40)
            Apabila Tuhan menghendaki bisa lupa, yang bisa lupa itu adalah bukan Tuhan, tentu saja Dia bukanlah Tuhan. Allah berfirman:
“Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa;” (QS. Thaha: 52)
            Di dalam Al Qur’an tidak ada hal yang menyebutkan bahwa Tuhan tidak mampu berbuat apa saja. Allah berfirman dalam surat Al fatir: 1, Al Baqarah: 106, 109, 284 dan lain sebagainya. Namun ada beberapa hal yang tidak mungkin dilakukan oleh Tuhan. Diantaranya menjadi manuisa, karena Allah tidak ingin menjadi seperti manusia, karena Dia hanya ingin menjadi Tuhan.[2]   


[1] Dalam terminologi Ilmu Tauhid Madzhab Asy’ari yang mayoritas diikuti oleh masyarakat Indonesia, dijelaskan bahwa seluruh sifat-sifat Tuhan yang tidak terbatas itu di bagi menjadi dua: 1. Sifat Dzat, yakni suatu Sifat yang Tuhan tidak mungkin memiliki sifat yang bertentangan dengan sifat tersebut. Seperti sifat Wujud, dan Allah tidak mungkin memiliki sifat Adam (tidak ada). 2. Sifat Af’al, yakni suatu sifat pekerjaan yang Tuhan mungkin memiliki sifat yang bertentangan dengan sifat tersebut. Seperti sifat al-Khaliq (Maha Pencipta) dan Allah mungkin memiliki sifat al-Halik (Maha Pengrusak). Dan Tuhan tidak mungkin mewujudkan lawan dari sifat wajib baginya.
[2] Disarikan dari pidato Dr. Zakir Naik dan beberapa penambahan seperlunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar