Selasa, 23 Februari 2016

Tragedi Kabel Telpon di Pondokku




 Pagi itu, udara dingin berhembus menusuk tulang. Kabut musim kemarau masih tebal menyelimuti tumbuhan. Samar-samar suara adzan subuh mengalun pelan menyemarakkan suasana di desa itu
Hari itu aku tidur  di kantor pesantren. Kantor itu memiliki dua kamar, satu kamar dihuni oleh Mang Amir, kepala pondok asal ciamis, Jawa barat. Sedang kamar yang satu dihuni oleh Kang Mansur pengurus bagian sekretaris dan Kang Basirun, pengurus bagian bendahara. Disampingnya terdapat sebuah bilik telpon kecil untuk santriwati.
            "Kheeek..KheeekKheeek"
            Sebuah suara aneh terdengar. Aku yang masih tidur neynyak tak menggubris suara itu.
            "Kheeeks..Kheeek…Kheeek"
            Suara itu kembali terdengar lagi. Aku mulai terbangun. Hal pertama yang kupikirkan itu adalah suara ngorok kang santri asal ciamis itu.
            "Kheeeks..Kheeek…Kheeek…."
            Masya Allah, suara itu terdengar semakin keras. Aku sangat terganggu. Aku segera bangun dan Astagfirullah, cermin yang semula menempel di dindingkini hancur berkeping-keping di samping tempat tidurku.
            Kabel telpon yang tembus ke bilik telpon santriwati, tidak terulur seperti biasanya. Sepertinya ada seseorang yang menarik kabel itu dengan sangat kuat dari kamar sebelah.
            "Kheeeks..Kheeek…Kheeek…"Suara itu semakin keras. Aku tersadar, itu bukan suara ngorok tetapi suara erangan orang tercekik.
            Aku mencari asal suara itu, aku kaget, suara erangan tercekik itu berasal dari kamar sebelah.
            Aku berlari ke kamar sebelah. Ternyata benar, suara erangan tercekik terdengar semakin keras. Aku mencoba membukanya, sayang pintu itu terkunci dari dalam. Aku mencoba mendobraknya, sayang pintu itu tak bergeming sama sekali. Aku semakin panik, aku keluar dari kantor pesantren.
            "KANG TOOLLLLOOOOONG…" Teriakku sekuat tenaga.
            Para santri yang sebagian tertidur langsung terbangun. Namun mereka tidak bergerak dan malah melihatku dengan penuh tanda Tanya.
             Seorang pengurus berbadan gemuk berlari ke arahku. Dia sebenarnya tengah shalat, namun mendengar teriakan teriakan kritis dariku, dia membatalakn shalatnya dan berlari. santri itu bernama kang Basirun.
            "Ada apa gus?" Tanya kang Basirun panic.
            "Anu kang..Anu…" Ucapku seraya menunjuk ke kamar Mang Amir.
            Saat mendengar erangat tercekiki itu, kang Basirun paham situasi yang tengah terjadi. Dia segera berlari ke kamar mang Amir dan mendobraknya sekuat tenaga.
            "BRUUAAAAK…"
            Pintu berhasil didobrak. Aku melihat isi kamar, Innalillahi… seorang santri tidur terlentang dengan kabel telpon yang meliliti lehernya. Tubuhnya yang berat, akhirnya membuat kabel telpon yang terpasang erat di sisi kantor melilit lehernya dengan keras hingga membuat nafasnya sulit keluar dan wajahnya kebiruan.
            Dengan sigap kang Basirun berlari kea rah santri itu. dia mencoba memutus kabel itu dengan tangannya. Kabel itu terputus. Dengan sekuat tenaga dia memukul santri itu.
            "Pingin dadi opo awakmu?[1]" Teriak kang Basirun dengan tangan yang memerah.
            Santri itu tertunduk lemas. Kemudain dia tergeletak tak berdaya di atas jerami yang bolong-bolong. Dia menatapku, sorot matanya begitu kosong, tatapanya menyiratkan akar kehidupannya telah sirna.
            Beberapa hari kemudian, tiba-tiba seorang pengurus mendatangiku. Dia bercerita bahwa santri itu kembali menjalankan aksinya lagi. Saat suasana sepi dia mengambil seutas tali plastic. Dia mengambil bangku dan mulai mengikat tali itu ke atas tempat jemuran yang terbuat dari bambu.
            Setelah tali terikat kuat, dia mengalungkan tali itu ke lehernya, dan menyepak bangku pijakannya.dia kembali mengerang kesakitan. Beberapa menit kemudian, tali plastic itu terputus karena menahan beban tubuhnya yang agak berat.
            Mendengar suara aneh itu, seorang penguru berlari ke arahnya. Saat melihat seutas tali yang terbuat dari plastic itu putus, dia tahu bahwa santri ini hendak bunuh diri lagi.
            Tak berapa lama, atas kebijakan pengurus santri itu dibawa pulang ke kampong halamannya.
            aku mencari tahu lasan kenapa santri itu mencoba bunuh diri. Ternyata hal itu disebabkan tekanan dari keluargnya yang begitu keras.
            Keluarganya memang terkenal sebagai seorang tokoh masyarakat. Bahkan anak-anaknya yang lain selalu mendapat prestasi yang baik. Sementar santri itu sebaliknya, nilainya selalu buruk bahkan hafalan pelajarannya tidak ada yang dia hafal. Padahal santri itu memiliki kecerdasan yang mumpuni namun dia terlena oleh pergaulannya yang buruk.
            Puncaknya, saat liburan lebaran dia pulang. saat hedak berangkat ayahnya memarahinya dengan keras karena melihat prestasinya yang sangat buruk. Lalu, ayahnya membandingkan prestasinya dengan prestasi kakak-kakaknya.  Semenjak itu, dia termenung dan mengurung diri.
            Saat berangkat ke pesantrendia telah menjadi sosok yang lain. Sosok yang selalu diam dan tiba-tiba tertawa sendiri. Dan tatapannya berubah menjadi kosong.
            Aku tersadar, bahwa setiap perkataan orang tua akan selalu mempunyai bekas dihati anaknya. Walaupun beberapa kali si anak Nampak tidak memeperhatikan ucapannya tapi dalam relung hati yang paling dalam ada seberkas sayatan ucapannya itu membekas dalam hatinya.
            Tapi yang paling buruk, tak jarang perkataan mereka menjadi sebuah kenyataan yang akan membuat akan berakibat buruk kepada anaknya sendiri dan akhirnya membuat mereka mengelus dada.Walaupun ucapan itu mereka ucapkan dengan tidak sengaja.
            Ya, hal itu mengingatkan cerita seorang sahabat yang bernama Alqomah. Dalam setiap jengkal hidupnya selalu dia isi dengan beribadah mulai membaca Al Qur'an, berjihad, dan ebrsedekah. Setelah menikah dan hidup bersama istri barunya dia lupa dengan ibunya. Hingga sang ibu murka kepadanya.
            Dan saat detik-detik kemtaiannya hal yang sangat buruk terjadi, dia tidak bisa mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun sungguh beruntung, saat itu masih ada Rasulullah yang memintakan maaf untuknya apabila tidak niscaya dia akan celaka selamanya.
            Itu adalah seorang sahabat yang derajat kemuliaan mereka sangat tinggi. Yang setiap tarika nafas mereka selalu dinaungi oleh wahyu ilahiyah. Lantas bagaimana bila hal itu terjadi pada kita di zaman modern ini?


[1] "Ingin Jadi Apa Kamu?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar