Pagi itu, udara dingin berhembus menusuk tulang.
Kabut musim kemarau masih tebal menyelimuti tumbuhan. Samar-samar suara adzan subuh mengalun pelan
menyemarakkan suasana di desa itu
Hari itu aku tidur di kantor pesantren. Kantor itu memiliki dua
kamar, satu kamar dihuni oleh Mang Amir, kepala pondok asal ciamis, Jawa barat.
Sedang kamar yang satu dihuni oleh Kang Mansur pengurus bagian sekretaris dan
Kang Basirun, pengurus bagian bendahara. Disampingnya terdapat sebuah bilik
telpon kecil untuk santriwati.
"Kheeek..KheeekKheeek"
Sebuah
suara aneh terdengar. Aku yang masih tidur neynyak tak menggubris suara itu.
"Kheeeks..Kheeek…Kheeek"
Suara
itu kembali terdengar lagi. Aku mulai terbangun. Hal pertama yang kupikirkan
itu adalah suara ngorok kang santri asal ciamis itu.
"Kheeeks..Kheeek…Kheeek…."
Masya Allah,
suara itu terdengar semakin keras. Aku sangat terganggu. Aku segera bangun dan
Astagfirullah, cermin yang semula menempel di dindingkini hancur
berkeping-keping di samping tempat tidurku.
Kabel
telpon yang tembus ke bilik telpon santriwati, tidak terulur seperti biasanya.
Sepertinya ada seseorang yang menarik kabel itu dengan sangat kuat dari kamar
sebelah.
"Kheeeks..Kheeek…Kheeek…"Suara
itu semakin keras. Aku tersadar, itu bukan suara ngorok tetapi suara erangan
orang tercekik.
Aku
mencari asal suara itu, aku kaget, suara erangan tercekik itu berasal dari
kamar sebelah.
Aku
berlari ke kamar sebelah. Ternyata benar, suara erangan tercekik terdengar
semakin keras. Aku mencoba membukanya, sayang pintu itu terkunci dari dalam.
Aku mencoba mendobraknya, sayang pintu itu tak bergeming sama sekali. Aku
semakin panik, aku keluar dari kantor pesantren.
"KANG
TOOLLLLOOOOONG…" Teriakku sekuat tenaga.
Para
santri yang sebagian tertidur langsung terbangun. Namun mereka tidak bergerak
dan malah melihatku dengan penuh tanda Tanya.
Seorang pengurus berbadan gemuk berlari ke
arahku. Dia sebenarnya tengah shalat, namun mendengar teriakan teriakan kritis
dariku, dia membatalakn shalatnya dan berlari. santri itu bernama kang Basirun.
"Ada
apa gus?" Tanya kang Basirun panic.
"Anu
kang..Anu…" Ucapku seraya menunjuk ke kamar Mang Amir.
Saat
mendengar erangat tercekiki itu, kang Basirun paham situasi yang tengah
terjadi. Dia segera berlari ke kamar mang Amir dan mendobraknya sekuat tenaga.
"BRUUAAAAK…"
Pintu
berhasil didobrak. Aku melihat isi kamar, Innalillahi… seorang santri tidur
terlentang dengan kabel telpon yang meliliti lehernya. Tubuhnya yang berat, akhirnya membuat kabel telpon yang terpasang erat di sisi kantor melilit lehernya dengan keras hingga membuat nafasnya sulit keluar dan wajahnya kebiruan.
Dengan
sigap kang Basirun berlari kea rah santri itu. dia mencoba memutus kabel itu
dengan tangannya. Kabel itu terputus. Dengan sekuat tenaga dia memukul santri
itu.
Santri
itu tertunduk lemas. Kemudain dia tergeletak tak berdaya di atas jerami yang
bolong-bolong. Dia menatapku, sorot matanya begitu kosong, tatapanya
menyiratkan akar kehidupannya telah sirna.
Beberapa
hari kemudian, tiba-tiba seorang pengurus mendatangiku. Dia bercerita bahwa
santri itu kembali menjalankan aksinya lagi. Saat suasana sepi dia mengambil
seutas tali plastic. Dia mengambil bangku dan mulai mengikat tali itu ke atas
tempat jemuran yang terbuat dari bambu.
Setelah
tali terikat kuat, dia mengalungkan tali itu ke lehernya, dan menyepak bangku
pijakannya.dia kembali mengerang kesakitan. Beberapa menit kemudian, tali
plastic itu terputus karena menahan beban tubuhnya yang agak berat.
Mendengar
suara aneh itu, seorang penguru berlari ke arahnya. Saat melihat seutas tali
yang terbuat dari plastic itu putus, dia tahu bahwa santri ini hendak bunuh
diri lagi.
Tak
berapa lama, atas kebijakan pengurus santri itu dibawa pulang ke kampong
halamannya.
aku
mencari tahu lasan kenapa santri itu mencoba bunuh diri. Ternyata hal itu
disebabkan tekanan dari keluargnya yang begitu keras.
Keluarganya
memang terkenal sebagai seorang tokoh masyarakat. Bahkan anak-anaknya yang lain
selalu mendapat prestasi yang baik. Sementar santri itu sebaliknya, nilainya
selalu buruk bahkan hafalan pelajarannya tidak ada yang dia hafal. Padahal
santri itu memiliki kecerdasan yang mumpuni namun dia terlena oleh pergaulannya
yang buruk.
Puncaknya,
saat liburan lebaran dia pulang. saat hedak berangkat ayahnya memarahinya
dengan keras karena melihat prestasinya yang sangat buruk. Lalu, ayahnya
membandingkan prestasinya dengan prestasi kakak-kakaknya. Semenjak itu, dia termenung dan mengurung
diri.
Saat
berangkat ke pesantrendia telah menjadi sosok yang lain. Sosok yang selalu diam
dan tiba-tiba tertawa sendiri. Dan tatapannya berubah menjadi kosong.
Aku
tersadar, bahwa setiap perkataan orang tua akan selalu mempunyai bekas dihati
anaknya. Walaupun beberapa kali si anak Nampak tidak memeperhatikan ucapannya
tapi dalam relung hati yang paling dalam ada seberkas sayatan ucapannya itu
membekas dalam hatinya.
Tapi
yang paling buruk, tak jarang perkataan mereka menjadi sebuah kenyataan yang akan
membuat akan berakibat buruk kepada anaknya sendiri dan akhirnya membuat mereka
mengelus dada.Walaupun ucapan itu mereka ucapkan dengan tidak sengaja.
Ya,
hal itu mengingatkan cerita seorang sahabat yang bernama Alqomah. Dalam setiap
jengkal hidupnya selalu dia isi dengan beribadah mulai membaca Al Qur'an,
berjihad, dan ebrsedekah. Setelah menikah dan hidup bersama istri barunya dia
lupa dengan ibunya. Hingga sang ibu murka kepadanya.
Dan
saat detik-detik kemtaiannya hal yang sangat buruk terjadi, dia tidak bisa
mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun sungguh beruntung, saat itu masih ada
Rasulullah ﷺ yang memintakan maaf untuknya apabila
tidak niscaya dia akan celaka selamanya.
Itu
adalah seorang sahabat yang derajat kemuliaan mereka sangat tinggi. Yang setiap
tarika nafas mereka selalu dinaungi oleh wahyu ilahiyah. Lantas bagaimana bila
hal itu terjadi pada kita di zaman modern ini?
[1] "Ingin Jadi Apa
Kamu?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar