Proses Kreatif, Umar Sang Khalifah
Sebuah memor Indah

Buku ini merupakan tangga awalku menuju dunia kepenulisan. kurang lebih 4 bulan saya menghabiskan waktu untuk mencari ibarat dan merubahnya menjadi sebuah buku yang enak di baca.
Ya, maklum aja, asalnya semua kisah-kisah di dalam buku itu berbahasa Arab dengan menggunakan format rawi hadist atau astar sehingga saya memerlukan dua proses untuk menghasilkan buku ini, menerjemah dan merangkainya menjadi buku masa kini.
Semuanya bermula setelah beberapa minggu dari kegagalan penjualan buku penuh kritik, LOLONGAN MISTERIUS SANG PEMBURU. Kisah mukjizat yang bercover serigala.
Dan benar, buku itu akhirnya sama sekali tidak saya di
pasaran. Walaupun memang ada beberapa yang terjual tapi itu tidak bisa mengembalikan
modal awal.
Di dalam kantor saya merenung dan mengambil sebuah kitab
yang berjudul Khulafa’ur Rasyidun terbitan pesantren Sidogiri. Saya
membuka bab khusus yang menerangkan perjalanan hidup Umar bin Khattab. Saat
membaca bab terakhir, saya terpekur….. betapa banyak kisah kesederhanaan
pemimpin yang dipanggil Amirul Mukminin pertama kali itu.
Tiba-tiba saya tersentak.”Mengapa saya tidak membuat buku
yang menerangkan kisah-kisah Sayyidina Umar saja. Lantas cerita-cerita itu di
tulis ulang dengan model cerita mirip cerpen.”
Ya, akhirnya bangkit dari keterpurukan. Mulai dari detik itu
juga saya mulai mengumpulkan kisah-kisah Sayyidina Umar dari berbagai kitab
terutama dari sofware kitab digital Shamela. Saat kumpulan ibarat sudah
menumpuk, saya bingung harus menulis dengan model bagaimana.
Saya berpikir mencari sebuah buku yang memiliki tema serupa
dengan calon naskahku. Menulis ulang kisah kitab kuning dengan bahasa kekinian.
Jedz, saya teringat sebuah buku karya Kang Abik berjudul Ketika Cinta Berbuah
Surga.
Saya segera mengambil bukunya dan mempelajari bagaimana Kang
Abik menuangkan gagasannya dalam kertas. Sedikit demi sedikit, saya akhirnya
berhasil menguraikan benag kusut dan berhasil menguasai terknik Kang Abik dalam
menuangkan gagasannya itu.
Perlu diketahui,
dalam dunia kepenulisan teknik ini di namakan Copy The Master. Kita
mengamati, meniru dan memodifikasi teknik tulisan sang penulis senior. Coba
baca buku Menjadi penulis Top, Banget, karya Arul Khan, Mizan 2009. Kalau
gak punya, bisa menghubungi saya dan saya akan berikan Ebooknya G.R.A.T.I.S..He..3..
Mulai saat itu juga aku terus menulis. Aku benar-benar keranjingan
menulis. Untuk kesuksesan proyek ini maka dalam sehari aku membagi waktu
menulis dua kali, sesudah membuka tabungan hingga Asyar dan sesudah Takror
hingga jam 12 malam.
Setelah selesai menulis, buku itu akhirnya aku beri judul
Bidadari untuk Anakku. Aku endapkan seminggu, lalu aku edit. Hal itu
berlangsung terus hingga saya mengedit sebanyak 3 kali. Kemudian saat haul
Abah, Aku pulang dan mengirimkan naskah ke penerbit. Semula aku mengirimkan ke
Mutiara Media, Yogyakarta (penerbit yang kini menerbitkan buku ketigaku) namun
karena tidak ada konfirmasi, akhirnya aku mengirimnya ke Pustaka Iltizam, Solo.
Dan 4 minggu kemudian naskahku lolos dan berubah judul menjadi UMAR SANG
KHALIFAH.
Setelah keterpurukan karena naskah yang kacau, dan berkat
keberanianku melangkah aku berhasil menorehkan sebuah prestasi yang membuat
semua teman terutama keluargaku bangga. Aku yang hanya lulusan SMP, berhasil
membuat sebuah buku dan menerbitkannya ke penerbit yang memiliki hak penjualan
ke Gramedia.
Semua, itu adalah berkat keberanian dan tekad bangkit dari
keterpurukan dan kegagalan. Apabila saya tidak berani mengambil sikap niscaya
keberhasilan ini (Masya Alah la Quwwata illa billah) tidak pernah saya
gapai. Bahkan dari kegagalan itu aku mendapatkan beberapa hikmah yang lain. Ya Insyallah,
akan saya posting di lain kesempatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar