Si Calon Novel.....
Syaikh Raja’ bin Haiwah al Kindi melangkahkan kakinya dengan cepat. Airmukanya begitu keruh, keringat dingin mengucur pelan membasahi jenggotnya yang telah memutih, padahal udara saat itu dingin menggigit, tapi keringat itu terus saja keluar. Sepertinya dia merasakan ada angin petaka yang tengah berhembus di tengah istana khalifah ini.
Sementara seorang lelaki separuh baya yang berada di belakangnya berusaha mengimbangi langkah lelaki tua itu. Mereka berdua menyusuri lorong-lorong istana yang begitu luas.
Malam merangkak pelan, kabut perlahan turun menyelimuti halaman istana yang berdiri tepat di tengah kota Damaskus. Istana itu menjulang tinggi, dindingnya terbuat dari batu alam dilapisi dengan keramik yang terbuat dari batu granit berhiaskan kaligrafi indah.
Di depan istana terdapat para prajurit penjaga. Hawa yang begitu dingin membuat mereka merapatkan baju. Suhu malam itu begitu dingin menggigit tulang. Walau mereka sudah di tempa latihan militer yang keras, namun tubuh mereka tak mampu juga menahan dinginnya malam itu. Suasana istana juga semakin sepi. Balairung tempat pertemuan khalifah dan para pejabat kerajaan yang biasanya ramai, telah sepi berteman sunyi. Ruangan-ruangan istana begitu sendu berhiasakan cahaya lentera yang bersinar temaram.
Suara nyanyian biduan dan raungan para pejabat picik yang biasanya membuat bising ruangan itu telah hilang di telan malam.
“Wazir Abdulloh, sebenaranya apa yang tengah terjadi?” Ucap Syaikh Raja’ tanpa menoleh ke wajah Wazir Abdulloh yang berjalan di belakangnya.
“Saya juga kurang tahu Syaikh, sejak tadi sesudah shalat Jum’at Amirul Mukminin Sulaiman tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.” Jelas wazir Abdulloh.
“Entah mengapa firasatku mengatakan akan terjadi kejadian besar di negeri kaum muslim ini.” Jelas Syaikh Raja’ singkat. Wazir Abdulloh tercekat mendengar penuturan Syaikh Raja’. “Maksud Syaikh, Amirul Mukminin akan meningal?”
“Allahu a’lam, aku tidak tahu takdir Allah yang telah tertulis di Lauh Mahfudz. Tapi firasatku mengatakan hal itu.” Wazir Abdulloh terdiam. Dia merenungkan ucapan Syaikh Raja’. Dia masih ingat Rasulullah bersabda: “Takutlah dengan firasat orang yang beriman karena mereka melihat karena dia melihat dengan cahaya Allah" . Dan tidak ada seorang muslim yang begitu dekat kepada Allah kecuali para ulama’ yang senantiasa mengajak manusia kepada jalan kebaikan. Dia menghembuskan nafas, dan berdoa agar kaum muslimin selalu dalam perlindungan Allah.
Mereka berdua berhenti di depan sebuah kamar yang memiliki pintu besar. Daun pintu itu terukir ornamen kaligrafi persia yang indah. Dua orang prajurit berbadan tinggi besar, berdiri gagah di depannya.
“Kami, hendak menemui Amirul mukminin.” Jelas wazir Abdulloh menjelaskan tujuannya kepada dua prajurit itu. Seorang prajurit yang nampak agak tua, menatap mata wazir Abdulloh dengan tajam.
“Barusan kami mendapat mandat dari Amirul Mukminin hanya Syaikh Raja’ yang diperkenankan masuk. Sedang wazir kami persilahkan menunggu di luar.” Tegas prajuri itu.
Syaikh Raja’ menoleh ke arah wazir Abdulloh,”Kalau begitu saya masuk dulu. Apabila ada hal yang penting lagi nanti kita musyawarahkan kembali.” Wazir Abdulloh mengangguk.
Dua orang pasukan penjaga segera membuka pintu kamar pribadi Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Begitu pintu terbuka, harum Bukhur yang bagitu wangi langsung menyeruak keluar ruangan, wangi itu mampu membuat orang menjadi tenang. Tanpa membuang waktu, Syaikh Raja’ segera masuk ke dalam kamar.
Kamar itu begitu luas, di dalamnya terdapat beberapa keramik buatan Persia dan perkakas unik lainnya. Permadani yang lembut terhambar menutupi lantai kamar itu. Di tengah kamar, sebuah tempat tidur besar tempat Amirul Mukminin terbaring sakit.
“Assalamu ‘alaikum wahai Amirul Mukmin...” Salam Syaikh Raja’ dari depan pintu. “Walaikum salam.” Balas Khalifah Sulaiman pelan. Dia menoleh ke sumber suara. Begitu melihat Syaikh Raja’ wajahnya yang pucat pasi, menyemburatkan sinar harapan.
”Sungguh suatu kehormatan, Anda berkenan hadir menemui saya di tempat ini.”
“Itu sudah suatu kewajiban ummat untuk selalu patuh kepada pemimpinnya.” Timpal Syaikh Raja’ berjalan mendekati tempat tidur mewah itu.
“Syaikh Raja’, saya memanggil Anda kemari dengan alasan yang sama seperti dua hari yang lalu. Ya, saya merasa umur saya tidak akan panjang. Keberadaan saya di dunia ini semakin pendek dan pertemuan saya dengan Allah dan Rasulullah semakin dekat.” Syaikh Raja’ terpekur mendengar ucapan Khalifah Sulaiman. Walau Khalifah Sulaiman seorang pemimpin seluruh kaum Muslimin, dia tetap suka bermusyawarah dengan siapa saja terutama para Ulama’. Sungguh sikap yang sangat berbeda dari pimpinan bani Umayyah yang lain.
“Syaikh, tempo hari saya telah memilih putra saya, Ayyub untuk menjadi penerus ke Khalifahan ini. Namun karena dia masih kecil dan belum Baligh, dengan tegas Anda menolak usulan saya. Dan setelah saya berpikir masak, usulan anda memang benar dan surat pengangkatan itu langsung saya bakar.”
“Lantas siapa orang yang menurut Anda cocok dengan hal ini?” Tanya Syaikh Raja’.
“Bagaimana pendapat Anda mengenai putra Saya, Daud bin Sulaiman?” “Bukankah dia tengah berjihad di Konstantinopel? Dan Andapun tidak tahu kondisinya sekarang, apakah dia masih hidup atau telah syahid.” Tegas Syaikh Raja’.
“Lantas menurut Anda, siapakah yang layak dengan ini wahai Syaikh Raja’.”
“Saya hanyalah orang yang memberi nasehat, sedang pilihan ada sepenuhnya kepada Anda wahai Amirul mukmin. Saya hanya akan melihat siapa orang ingin Anda amanahi beban berat ini.” Jawab Syaikh Raja’.
“Aku ada pilihan lain. Dia bukanlah anakku ataupun anak dari ayahku, Khalifah Abdul Malik bin Marwan.” Ucap Khalifah Sulaiman seraya menatap angkasa dari balik kamarnya. Dia menghela nafas,”Namun saya khawatir apabila dia kujadikan Amirul Mukminin, orang-orang Umayyah lain akan menentangnya atau malah akan memberontak kepadanya.”
Syaikh Raja’ terkejut mendengar penuturan Khalifah Sulaiman. Dia sama sekali tidak menduga apabila Khalifah memiliki pilihan nekat seperti itu. “Benar, Amirul mukminin. Memilih orang lain menjadi khalifah akan mendatangkan petaka besar dalam tubuh keluarga Umayyah. Apakah hal itu sudah anda pertimbangkan?”
“Tentu saja Syaikh, saya sudah memikirkannya dengan masak-masak.” Tegas Khalifah Sulaiman.
“Saya tidak berniat menghalangi keinginan Anda. Tapi saya sangat khawatir apabila kejadian yang sering terjadi di Rum juga akan terjadi di kekhilafahan ini. Saya sangat takut apabila darah kaum muslimin tercecer membasahi bumi Syam ini.”
Khalifah Sulaiman diam mendengar penuturan Syaikh Raja’. Dia memaklumi perasaan Syaikh Raja’, sebagai Ulama’ sudah sepantasnya beliau mementingkan kemaslahatan utama kaum muslimin. Dia menghela napas dan mendengarkan uraian Syaikh Raja’ dengan seksama.
“Amirul mukminin, Apakah Anda tidak mengetahui kisah Kaisar Nero? Dia tega membunuh para sepupunya yang berpotensi menjadi Kaisar dan di tengah pemerintahannya, dia membunuh ibu kandungnya sendiri yang telah membantunya menyingkirkan semua duri pengganggu kekaisarannya. Namun akhirnya dia juga mati ditangan keluarganya sendiri” Jelas Syaikh Raja’ panjang lebar. Keringat dingin mengucur pelan dari dahinya.
“Saya sudah mendengar kisah itu, untuk itulah saya akan melantik seseorang yang mampu meredam konflik ini sesudah lelaki pilihan saya itu.”
“Maksuda Anda?” Tanya Syaikh Raja’ tidak paham. “Dalam surat pengakatan itu, saya akan memerintahkan kaum muslimin untuk membaiat lelaki pilihan saya itu. Sesudah masa kepemimpinannya habis, maka kekhilafahan akan diteruskan oleh lelaki peredam konflik ini.”
“Siapa lelaki yang bisa meredam konflik ini, wahai Amirul mukminin?”
“Lelaki itu adalah adikku sendiri, Yazid bin Abdul Malik. Dia lelaki bijaksana dan memiliki pengaruh di antara tetua bani Umayyah.”
“Sungguh pilihan yang bijaksana wahai Amirul mukminin. Oh ya, lantas siapa orang yang hendak Anda jadikan khalifah selanjutnya?” Tanya Syaikh Raja’ mengurai rasa penasaran di dalam hatinya.
“Anda sangat mengenalnya Syaikh. Diantara keturunan Umayyah dia adalah lelaki yang paling shalih. Dia adalah.....................................................
Umar bin Abdul Aziz
Novel Biografi sang khalifah Zuhud

Tidak ada komentar:
Posting Komentar