Rabu, 24 Februari 2016

Firasat seorang guru




Aku baru saja masuk ke dalam pesantren. Lelah akibat berjalan sejauh 1 km masih menjalari urat kakiku. Aku berjalan mendekati tempat para santri belajar. ku lihat mereka begitu riang, walau besok adalah ujian kwartal dua, canda dan tawa mereka seolah mampu menghapus semua beban.

Tiba-tiba dari bangunan asrama atas, ada seseorang memerhatikanku. Aku memrhatikannya sekali lagi. Wajahnya yang hitam dengan senyuman manis khasnya, membuatku langusng paham bahwa dia adalah aviv. Santri nakal dan juga muridku.

Dia tersenyum dan menunjukkan dua buah buku catatan.

"Gus, binjing pelajarane Tarikh kalehan Irab. Uangeil. He..He..He ( Us, besok pelajarane Tarikh dan Irob. Sulit)." Ucap Aviv sambil tersenyum sok imut.

"Alah, kalau Tarikh itu sangat Mudah. Tapi kalau Irob ya dilihat dulu. Saat aku sekolah tidak ada pelajaran itu." Jawabku agak keras.

"Nek ngoten, kulo mandap geh, belajar kaleh jenengan. (Kalau begitu saya turun ya, belajar bersama Anda)."

Aku tersenyum dan mengacungkan jempol tanda setuju. Tanpa membuang waktu, santri hitam manis itu berlari melewati tangga dan langsung turun menemuiku.

Dia langsung menyodorkan sebuah kitab materi pelajaran Irab. Aku mengeryitkan dahi begitu melihat kitab itu. Seumur-umur baru kali ini aku membuka kitab ini.

"Coba tak lihat dulu."

Aku langsung membuka materi itu. ternyata isinya sama seperti kitab-kitab Nahwu Standart namun ada perbedaan sedikit yakni menguraian Tarkib (kedudukan) suatu lafad yang dijadikan contoh.

"Hmm... Aku gak tahu belajar kitab iki. Tapi kalau aku perhatikan isinya, aku tahu apa yang akan menjadi soal besok."

 "Maksud jenengan?" Tanya Aviv keheranan.

Aku tersenyum melihat ekspresi aneh anak itu,"Gini viv, kalau aku menjadi gurunya, aku akan memberi pertanyaan yang menjadi pokok suatu pembahasan utama pelajaran. Dan pokok utama pembahasan kitab ini adalah ya penguraiaan contoh-contoh ini."

Aviv hanya tersenyum kecut, aku tidak tahu apakah dia paham penjelasanku atau tidak.

"Bawa buku catetan."

Dia menggeleng dan langsung berlari ke kamarnya. sejurus kemudian, dia datang dengan membawa buku catatannya.

Aku mengambil buku itu, dan menuliskan skema dan penjelasan singkat di atas kertas. Kemudian, dengan telaten aku menerangkan satu persatu skema itu.

"Wes, semuanya sama seperti ini. " Ucapkku mengakhiri kursus singkat itu.

Keesokan harinya, sewaktu pulang ujian Aviv bertemu denganku. Airmukanya begitu cerah, dia begitu bahagia.

"Gus, apa yang jenengan katakan leres. Soalnya yang jenengan terangkan keluar semua." Terangnya dengan mata berbinar.

Aku tertawa renyah mendengar ucapannya. Dari situ aku mendapat pelajaran bahwa apa yang di pikirkan semua guru itu hampir sama, mereka berusaha dengan semaksimal mungkin untuk membuat murid-muridnya berhasil dalam pelajaran mereka. Walaupun itu merupakan tugas yang sulit, tapi begitulah seorang guru. Mereka berikhtiar menjelaskan materi kepada para murid dengan kepercayaan total bahwa mereka akan bisa memahaminya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar